Selama ini, Kota Sabang masyhur akan deretan pantai berpasir putih nan indah. Tak banyak yang tahu bahwa daerah yang terletak di Pulau Weh, Aceh ini juga memiliki ribuan benteng peninggalan Angkatan Laut Jepang yang sebagian di antaranya masih berdiri kokoh. Julukan Kota Seribu Benteng pun tersemat pada titik paling utara Indonesia ini.

Selama kurun waktu 1942-1945 Sabang menjadi pangkalan Angkatan Laut yang besar. Hal ini dikarenakan Pulau Weh semasa pemerintahan Hindia Belanda dijadikan sebagai titik utama penyimpanan minyak untuk kapal laut yang terletak di pangkalan angkutan laut Sabang.

Menurut referensi dari Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), sejak 14 Juli 1942, Sabang menjadi markas Angkatan ke-9 Armada Expeditionary 1 Angkatan Laut Jepang.

Pecahnya Perang Dunia II berdampak besar bagi Sabang. Jepang menganggap kota ini punya posisi strategis sebagai pelabuhan militer dan garis pertahanan udara terdepan dalam menghadapi ancaman sekutu dari arah Barat.

Jepang membangun benteng serta bungker di sekeliling garis pantai dan perbukitan Sabang untuk memperkuat pertahanan mereka, seperti di Ujung Kareung, Aneuk Laot, Bukit Sabang dan sepanjang Pantai Kasih.

Dari ribuan benteng dan bungker yang ada di Sabang, beberapa di antaranya masih kokoh berdiri dan bahkan dijadikan spot-spot wisata sejarah. Biasanya, benteng dan bungker ini dibangun di kawasan yang didukung dengan panorama alam yang indah.

Kompleks benteng besar di Sabang yang telah banyak dikunjungi wisatawan termasuk Kompleks Benteng Batere A, Japanese Coastal Fortress (Benteng Pertahanan Pantai Jepang), dan Benteng Anoi Itam. Namun, di luar benteng besar itu, tersebar pula benteng dan bungker lainnya.

Benteng Batere A merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan pasukan cadangan sekaligus tawanan perang bagi pertahanan bawah tanah pasukan Jepang. Bangunan ini berada di Kelurahan Cot Ba’u, Kecamatan Suka Jaya. Oleh masyarakat lokal, benteng ini juga disebut Benteng Meteo karena sebelumnya pernah dibangun kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Sabang.

Dalam kompleks benteng ini ada beberapa komponen benteng, yakni satu bangunan induk, tiga bangunan pengintaian, dua tangga, dan satu bak air. Awalnya, terdapat dua meriam di kompleks ini. Namun, meriam ini telah dipindahkan ke Sabang Fair bersama meriam dari benteng lainnya.

Kondisi situs Kompleks Benteng Batere A masih baik, meski sangat tidak terpelihara. Bangunan induk terlihat mengalami beberapa kerusakan dan dicorat-coret di bagian dinding. Selain itu, seluruh kompleks juga ditumbuhi ilalang dan rumput yang cukup tinggi.

Dari atas bangunan pengintaian, pengunjung bisa melihat pemandangan Teluk Sabang dengan amat jelas, lengkap dengan kapal yang tengah lalu lalang dari kejauhan.

Beralih ke Benteng Anoi Itam yang ikonis. Kompleks yang terletak di Gampong Anoi Itam, Kecamatan Suka Jaya ini merupakan satu-satunya benteng yang masih memiliki meriam, meski sudah buntung dan tak terawat.

Di dalam kompleks ini terdapat enam benteng yang disusun mengikuti kontur tebing pantai dan perbukitan, membentuk seperti setengah lingkaran yang mengadap Selat Malaka. Selain tempat pengintaian, lokasi ini dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan berbagai jenis senjata bagi para armada Jepang.

Meski di pinggir pantai, lokasi wisata bungker ini cukup sejuk karena dikelilingi pepohonan rindang dan rerumputan hijau yang menghampar di tepian tebing laut lepas. Belum lagi pemandangan hamparan perairan Selat Malaka yang eksotis langsung menyegarkan mata. Tak heran, Kompleks Benteng Anoi Hitam cukup populer di kalangan wisatawan, baik lokal maupun asing.

Jika datang di waktu yang tepat, pengunjung yang beruntung akan bisa menyaksikan pemandangan langka: puluhan lumba-lumba yang berarak di sekitar radius 500 meter dari tebing yang menjorok ke laut lepas. Rombongan lumba-lumba itu seakan berlomba renang dalam arak-arakan dari arah Laut Andaman menuju Selat Malaka.

Selain kedua benteng besar itu, tersebar pula Japanese Coastal Fortress (Benteng Pertahanan Pantai Jepang) di beberapa titik tepi pantai, seperti di Pantai Tapak Gajah, Jurong Keramat Gampong, Ie Meulee dan Sabang Fair, Kuta Barat, Sukakarya.

Di dua titik ini, benteng-benteng terlihat cukup terawat dan bahkan dicat berwarna-warni, meski tidak dijaga siapapun. Warga sekitar pun tak jarang nongkrong di sekitar benteng ini karena memang dikelilingi pemandangan pantai yang menggoda.

“Ketika Jepang mendarat di Sabang pada 11-12 Maret 1942, mereka mulai membangun benteng-benteng pertahanan di seluruh Pulau Weh untuk persiapan menghadapi Perang Asia Pasifik, khususnya di tepi pantai berupa benteng pertahanan pantai, dengan dilengkapi meriam anti kapal perang,” tulis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang didukung oleh Sabang Heritage Society di papan penanda Japanese Coastal Fortress.

Kokoh Namun Tak Terawat

Jika mengunjungi situs-situs benteng yang tersebar di Kota Sabang, maka yang muncul di benak adalah: kokoh namun tak terawat. Sebagian besar bangunan tersebut belum dipugar dan dirawat, namun masih kokoh berdiri.

“Ada yang berada di bawah rumah penduduk, kebun orang, dan lain-lain. Pokoknya perkiraan kami bisa jadi lebih dari 1.000 benteng. Selama ini baru sekitar 250 benteng yang sudah diketahui, sudah terdata sekitar empat tahun lalu dan ada titik koordinatnya,”

“Kawan-kawan guide Sabang juga mempromosikan benteng-benteng itu agar dikunjungi para turis, sifatnya wisata sejarah. Ada juga turis asing dari program Sabang Marine dan Sail Sabang yang kami giring ke tempat-tempat itu, jadi ada paket tempat yang dikunjungi selain laut atau wisata bahari,”

“Sekarang fokus mempercantik dan membersihkan benteng, jaga kondisi alaminya sehingga tidak ada pengecatan. Namun, kalau coretan tembok itu tidak sanggup jaga, hanya bisa imbau saja agar pengunjung tidak corat-coret,” .